Menilik kabar pendidikan bangsa
Indonesia yang masih belum dikatakan
berhasil ini menyisakan keprihatinan tersendiri bagi kita semua.
Ketidaksukses-an pendidikan nasional hingga hari ini semestinya bisa membuka mata kita semua bahwa ada yang
salah dengan sistem ini. Banyak rapor merah dunia pendidikan yang tak kunjung
membaik.
Dari sisi pendidikan di sekolah, yang memang tak
semanis dan tak seindah konsep diatas kertas. Visi misi sekolah yang tentu saja
terancang sedemikian ideal seringkali tak tercermin dalam perilaku sehari-hari
para pelaku pendidikan di sekolah. Contoh kecil dari sisi peserta didik
misalnya, anak sekolah sekarang, akan lebih tertarik untuk membicarakan fashion
dan artis dari pada mendiskusikan
hal-hal bermanfaat. Lebih tertarik untuk hang
out ke mall dari pada sibuk di perpustakaan. Lebih rajin mengurus gadget
dari pada membaca buku. Dan sudah menjadi paradigma tersendiri bahwa belajar
hanyalah dikelas, saat guru menerangkan, lalu ditambah mengerjakan tugas.
Diluar hal itu tak nampak lagi aktivitas pendidikan.
Banyak generasi kita yang disadari atau tidak
mengabaikan masa depannya sendiri. Tak peduli sudah berkembang atau belum
pengetahuan yang dimiliki. Yang terpikirkan hanyalah menikmati masa muda dengan
semenyenangkan dan senyaman mungkin. Pengaruh globalisasi berperan penting
dalam mempengaruhi moral generasi muda di era ini. Disamping itu, maraknya aksi tawuran para
pelajar, narkoba, seks bebas menambah panjang daftar hitam dunia pendidikan
kita saat ini.
Merosotnya moral dikalangan pemuda meyakinkan kita
akan gaagalnya sistem pendidikan di negeri ini. Tak hanya dari sisi pelajar,
bahkan pihak pelaksana pendidikan dalam hal ini adalah sekolah tak luput dari
bagian kegagalan sistem pedididkan kita.
Tabiat para oknum pendidik yang tak bertanggungjawab semakin memperlebar lubang
kain pendidikan yang telah terlanjur terkoyak. Harus kita akui bahwa sistem
pendidikan di negara ini sangat jauh dari maksimal. Banyak diantara oknum pendidik
yang datang sebatas menggugurkan kewajibannya lalu mengajar sekadarnya. Dan anehnya hal yang sama
dilakukan juga oleh para pelajar. Mereka datang untuk presensi, mendengarkan,
dan mengikuti ujian untuk kemudian mendapat nilai dengan tanpa memperhatikan
dari mana nilai tersebut berasal. Dari jalan yang baik atau dengan menghalalkan
segala cara. Terlebih saat pendidik tidak datang ke kelas, betapa senangnya
para peserta didik. Yang perlu dipertanyakan sekarang, jadi siapa yang butuh
pendidikan? Saat pendidik dan peserta didik sama-sama tak bersemangat untuk
membangun bangsa ini.
Keluarga dan masyarakat berperan pula dalam gagalnya
pendidikan di negeri ini. Orang tua yang terlalu sibuk hingga tak sempat
memperhatikan pendidikan anaknya. Mereka hanya sekedar membiayai dan memenuhi
kebuthan materiil anaknya tanpa sadar bahwa anak tak hanya butuh materiil, tapi
aspek non materiil juga sangat penting karena ini yang akan mempengaruhi sifat
dan perilaku anak kedepannya.
Sering kita dengar bahwa jika kita ingin mengetahui
bagaimana sifat seseorang cukup dengan melihat lingkungan sekitar dimana mereka
sering berinteraksi. Lingkungan masyarakat yang cenderung negatif akan
berdampak buruk bagi perkembangan seorang anak. Tak dapat dipungkiri mereka
akan ikut terjerat oleh lingkungan yang negatif itu. Hal ini juga ikut andil
sebagai penyebab masalah yang telah dipaparkan diatas.
Tapi kabar baiknya, tidak semuanya bertindak seperti
yang telah diurikan diatas. Tetap masih
banyak pengajar-pengajar yang profesional, memahami dengan sepenuhnya mengenai
hak dan kewajibannya. Masih banyak pula siswa-siswi, pemuda yang baik, peduli
dengan bangsa ini dan terus berusaha berkontribusi positif bagi bangsa, masih
banyak pula keluarga yang baik, harmonis, memperhatikan putra-putri mereka,
juga akan tetap ada lingkungan masyarakat yang baik. Menjunjung tinggi
kehormatan mereka dengan cara-cara yang baik. Meski tak bisa dipungkiri, ada
lebih banyak lagi pengajar, siswa, keluarga, dan masyarakat yang bertindak
sebaliknya.
Masih ada
harapan
Dengan melihat fenomena tersebut, sudah saatnya
pemerintah dan masyarakat bekerjasama
menciptakan pendididkan yang lebih baik. Kita masih mempunyai harapan.
Kita masih punya generasi muda yang masih bisa dididik untuk menjadi genersi
yang berarakter. Sebelum terlambat, masih ada 30 tahun untuk sampai pada 2045.
100 tahun kemerdekaan Indonesia yang menjadi target tercapainya visi Indonesia
Emas. Indonesia Emas dimaknai dengan kondisi negara yang Maju, Makmur, Modern,
Madani, dan dihuni oleh masyarakat yang berperadaban. Visi ini yang menjadi
dasar pembentukan kebijakan dan strategi
pembangunan hingga tahun 2045 nanti.
Indonesia memiliki tantangan sekaligus peluang di
tahun 2045 dimana saaat itu kondisi demografi diperkirakan akan didominasi oeh kalangan usia produktif. Usia
produktif disini adalah mereka yang berusia kerja, yakni 15-64 tahun.
Tantangannya adalah bagaimana pemerintah mampu memanfaatkan kesempatan ini
dengan baik maka visi Indonesia Emas 2045 diharapkan dapat tercapai. Apabila pembenahan
sistem pendidikan dapat dimulai dan berhasil dapat dibayangkan saat tahun 2045
nanti, ketika kita memiliki banyak sumber daya manusia yang berkualitas, yang
dapat membangun bangsa ini, penuh inovasi diiringi dengan kematangan mereka
dalam menghasilkan kebijakan. Ketika negeri ini dipimpin oleh orang yang
tepat. Maka Indonesia Emas 2045 ta hanya
sekadar mimpi.
Perlu strategi jitu
Pengembangan sumber daya manusia merupakan kunci untuk
menjwab tantangan di masa mendatang. Kita butuh banyak ilmuwan dan para ahli
terutama dalam bidang sains dan teknologi untuk mengerakkan strategi
pembangunan yang cerdas dan berkesinambungan. Kita membutuhkan pemuda-pemuda
yang berwawasan global, tidak tertutup pada perkembangan dunia, dan mampu
bersaing dengan negara-negara lain di dunia.
Untuk mewujudkan semua itu perlu
dilakukan pembenahan sistem pendidikan baik tingkat dasar, menengah, maupun
perguruan tinggi. Namun seperti yang kita ketahui bersama bahwa setiap perubahan membutuhkan proses
perencanaan, juga adaptasi yang matang. Perlu waktu yang cukup untuk
menghasilkan sistem pendidikan yang optimal. Jangan pula karena tuntutan jaman
yang kian memaksa untuk melakukan perubahan menjadikan kita terges-gesa dalam
melakukan sesuatu. Seperti halnya Kurikulum 2013 yang notabene merupakan konsep
yang ideal dan dapat dijadikan awal untuk membenahi sistem pendidikan kita.
Namun pada pelaksanaannya baru-baru ini pemerintah terkesan terburu-buru dengan
menerapkan kurikulum 2013 tanpa periapan yang matang. Terbukti dengan fakta di
lapangan bahwa kurikulum ini belum bisa berjalan baik karena kurangnya
persiapan, baik dari sisi pemerintah
sebagai fasilitator, maupun dari sisi kesiapan para pendidik sebagi pelaksana.
Oleh karena itu alangkah baiknya apabila diadakan tinjauan ulang terhadap
pelaksanaan kurikulum 2013 ini.
Pendidikan harus berawal dari lingkungan dekat tempat
anak hidup, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan teman sebaya, dan ligkungan
masyarakat. Lalu dilanjutkan dengan perluasan wawasan, menjangkau lingkungan
yang lebih jauh yakni pada tingkat sekolah dasar dan menengah. Dalam fase
sekolah dasar dan menengah inilah peran pemerintah sebagai pembuat kebijakan
sangat menentukan.
Motivasi belajar bagi generasi muda perlu diupayakan
semaksimal mungkin. Bagaimana pemerintah dan pelaku-pelaku pendidikan dalam hal
ini adalah sekolah menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan membekas
dikalangan peserta didik agar semangat untuk terus melanjutkan pendidikan yang
dimulai dari sekolah dasar diteruskan ke sekolah menengah tetap tinggi.
Kebijaksanaan-kebijaksanaan pendidikan yang tepat menjadi alat untuk
membangitkan dunia Pendidikan negeri ini dari keterpurukan. Pemerataan pendidikan di seluruh daerah juga harus
diperhatikan dengan seksama. Agar kesenjangan pendidikan di negeri ini dapat
diminimalisir.
Pendidikan
adalah kunci
Sudah terlalu kritisnya sistem pendidikan nasional
dewasa ini, memaksa kita harus bertindak cepat dan tepat untuk memperbaikinya.
Pendidikan merupakan kunci dari pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas.
Dengan adanya sistem pendidikan yang tepat dan berkualitas akan dilahirkan
sosok-sosok luar biasa yang akan memimpin bangsa ini dikemudian hari. Untuk
menjawab tantangan yang akan datang dan mencapai Visi Indonesia Emas 2045.
Jadi tak ada lagi alasan untuk menunda-nunda
perbaikan kualitas pendidikan di negeri
ini. Optimalisasi pendidikan merupakan jalan untuk mencapai Indonesia yang
lebih makmur, sejahtera, dan bermartabat sesuai dengan apa yang telah dimanatkan
oleh konstitusi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar